- 03/04/2026
H. James Pasaribu, dan istrinya
''Udahlah dek. Udah mau mati saya ini dek.'' Kalimat itu masih terngiang di telinga saya ketika kami bersama-sama anggota DPRD Provinsi Riau dari Komisi B menjenguknya ke kediamannya di Jl Purwodadi, Panam, Pekanbaru, sekitar tahun 2007.
Ketika itu, H. James Pasaribu tergabung dalam Komisi B yang membidangi ekonomi bersama saya, H. Arsyadjuliandi Rachman, Hj. Nurliah, Yulios, AB Purba, Suhardiman Amby, dan lain-lain. Anggota DPRD Riau dari Fraksi PDIP ini baru saja terkena penyakit Hepatitis.
H. James terbaring di kasur lemas. Tidak berdaya. Namun semangatnya tetap tinggi. Dia bercerita ketika berobat ke dokter spesialis penyakit dalam Andi Zainal. Kata dokter Andi, James harus memakai obat yang harus dibeli di Jakarta. James dilarang merokok.
Tapi jawab James, dia tidak bisa berhenti merokok. Kalau berhenti, maka berhenti pula kehidupan ini. Maka, James disarankan untuk mengurangi merokok. Dan saran itu diterima James, namun tidak dijalankan.
James tetap merokok Gudang Garam Surya. Asap rokoknya mengepul di ruang AC kantor DPRD Riau yang dingin. Dia tidak peduli. Kadang saya yang terpaksa mengibas-ngibaskan kertas agar asap rokok tersebut menjauh dari saya.
Obat Hepatitis James dibeli di Jakarta. Untuk membawa pulang, harus masuk dalam pendingin (kulkas) tenteng. Jika James tidak berangkat, dia titip ke kawan-kawan yang berangkat ke Jakarta. Cukup lama James membeli obat yang katanya disuntikkan ke tubuhnya itu.
Tapi setelah itu, James sehat. Tubuhnya kembali berseri. Seperti biasa, James bersemangat jika rapat dengar pendapat di kantor. Atau pergi kunjungan kerja ke daerah. Pokoknya, James termasuk anggota dewan yang rajin dan bertanggung jawab.
Ketika roling komisi, James ikut dengan saya ke Komisi D yang membidangi kesejahteraan rakyat. Kebetulan saya Ketua Komisinya. James anggota saya. Jadi saya tahu persis apa kebiasaannya di dewan.
James rajin menghadiri rapat. Walaupun pendidikannya tidak tinggi, namun dia tidak sungkan untuk bertanya. Nah, pertanyaan ini yang selalu menjadi perhatian kami. Setiap bertanya, James selalu menyinggung daerah pemilihannya Indragiri Hilir (Inhil).
''Begini bapak. Di kampung saya di Inhil itu, kelapa ini menjadi andalan...dan seterusnya.'' Setiap mengajukan pertanyaan, James pasti menyinggung Inhil yang sudah menjadi kampung halamannya. Nyaris tidak pernah menyebut daerah lain.
Pelepasan jenazah H. James Pasaribu di DPRD Riau
Membela rakyat
H. James Pasaribu memang punya komitmen tinggi dalam memperjuangkan dan membela rakyat. Terutama untuk masyarakat daerah pemilihannya. Hari-harinya selalu memikirkan orang kampungnya atau masyarakat yang diwakilinya.
Mungkin James betul-betul meresapi platform PDIP yang salalu membela kaum Marhaenisme. PDIP identik dengan membela wong cilik. Sehingga apapun yang dilakukannya tidak terlepas dari perjuangan untuk membantu dan membela rakyat kecil.
Saya memperhatikan betul bagaimana James membantu rakyat. Tahun 2006 itu, masing-masing anggota DPRD Riau diberikan wewenang untuk membantu rumah ibadah atau kelompok masyarakat melalui bantuan sosial. Sebelumnya, bansos itu disalurkan oleh Pemerintah Daerah.
Awal itu, masing-masing anggota diberikan porsi Rp 300 juta. Pesan Djuharman Arifin, Wakil Ketua DPRD Riau, bantuan itu minimal Rp 25 juta setiap rumah ibadah atau kelompok masyarakat. Tapi James memberikan Rp 10 juta per rumah ibadah. ''Biar banyak yang dapat,'' katanya.
Tapi langkah itu agak menyusahkan James. Masyarakat penerima, harus menjemput ke Pekanbaru dan membawa stempel. Untuk datang ke Pekanbaru, kadang dua orang itu menghabiskan duit sampai Rp 5 juta. Karena mereka harus menyewai speedboat. Ditambah untuk menginap di Pekanbaru.
Alhasil tentu tinggal Rp 5 juta. Namun, James tetap pada prinsipnya. Sepanjang bisa dibantu nya, ya tetap dibantu. Kadangkala masyarakat itu tidur di rumahnya atau dicarikan tempat menginap. Nanti waktu pulang dibantu lagi uang transportasi.
Tapi memang begitulah James Pasaribu. Seluruh bansos itu dibagikannya ke masyarakat. Tidak ada yang bersisa untuknya. Begitupun ketika reses. James mendatangi konstituennya dan membantunya. Sehingga dia dekat dengan masyarakat dan dicintai rakyatnya.
Suatu kali setelah saya tidak di DPRD Riau lagi, saya jumpa Pak Haji James di kantor Biro Kesra Setda Riau. James membawa dua kantong asoi besar berisi map-map. Saya tanya, apa itu? Ternyata berkas yang akan ditandatangani dan distempel oleh masyarakat yang menerima bansos.
''Daripada masyarakat yang datang ke mari, lebih baik saya yang bawa ke Inhil Pak. Jadi tidak payah masyarakat datang ke Pekanbaru,'' ujarnya. Kepala Biro Kesra Zakaria menyetujui saja apa yang dilakukan James.
Begitulah H. James Pasaribu, sosok sederhana yang dekat dengan rakyat. Karena kedekatannya itu pula, James sampai enam periode duduk di DPRD, dua periode di DPRD Inhil dan empat periode di DPRD Riau, seperti dari usianya.
James sudah duduk di kursi wakil rakyat sebelum reformasi 1998. Waktu itu, masih PDI namanya. Setelah reformasi, James duduk lagi di DPRD Inhil, bahkan jadi wakil ketua DPRD. Tahun 2004, James meloncat ke DPRD Provinsi Riau.
Setelah sakit hepatitis yang katanya mau meninggal tadi, ternyata James berumur panjang. Dia berhasil duduk di DPRD Riau sampai empat periode meskipun usianya sudah makin tua. Ketika dicalonkan kembali tahun 2019, usia James sudah 81 tahun.
Menurut Sekretaris PDIP Riau ketika itu, Syafaruddin Poti, sebenarnya James tak mau dicalonkan lagi. Tapi masyarakat Inhil yang sudah terlanjur cinta, meminta James tetap dicalonkan. Alasannya, kalau anggota dewan, James bisa menggunakan asuransi untuk berobat di hari tuanya.
Jadi, masyarakat yang memikirkan James. Politikus gaek ini tidak ada turun sosialisasi seperti politisi lain. Ternyata dia kembali terpilih untuk periode keempat kalinya. Agaknya, PDIP juga sayang untuk melepaskan James karena takut tak dapat kursi.
Politisi seperti James Pasaribu ini cukup langka zaman sekarang. Banyak politisi yang terpilih bukan karena kedekatan dengan rakyat, tapi lebih kepada hitungan pragmatis. Dan, menurut saya, James Pasaribu, termasuk politisi fenomenal di Riau.
Namun, Allah berkehendak lain. Siang tadi, Sabtu (3/9/2022), pukul 15.43 WIB, H. James Pasaribu betul-betul dipanggil oleh Allah SWT di rumahnya di Jl Purwodadi, Panam, Pekanbaru. Pria kelahiran Tarutung, Sumut, 18 Desember 1937, ini meninggal dalam usia lebih 84 tahun.
Menurut istrinya, tidak ada sakit parah diderita James kecuali batuk dalam tiga hari ini. Makanya, pagi tadi dia minta berobat ke dokter di Eka Hospital. Pulang berobat, makan dan cerita-cerita. Setelah itu, tiba-tiba dia lemas dan drop. Ditidurkan ke kasur. Dan tak bergerak lagi.
Selamat jalan Pak Haji James Pasaribu. Semoga ada politisi yang mengikuti jejakmu. Semoga husnul khotimah. Aamiin.***