VOXOpini

Relasi Atasan dan Bawahan Gen Y/Z Dalam Pemilu 2024

Oleh : Albion Zikra, Direktur Riset Lembaga Survei VOXinsitute
Rabu, 14 Juni 2023 21:38 WIB
Albion Zikra, Direktur Riset VOXinsitute

"Seorang politisi berpikir tentang pemilihan berikutnya. Seorang negarawan, dari generasi berikutnya." – Anonim

TEORI  generasi pertama kali dikemukakan oleh Karl Mannheim pada essainya yang berjudul “The Problem of Generations” pada tahun 1923. Karl Mannheim mendefinisikan bahwa generasi merupakan kumpulan dari individu yang memiliki rentang usia dan pengalaman mengikuti peristiwa penting yang terjadi dalam sejarahnya.

Selanjutnya Kupperschmidt’s melengkapi definisi tersebut bahwa generasi adalah sekelompok individu yang mengidentifikasi kelompoknya berdasarkan kesamaan tahun kelahiran, umur, lokasi, dan kejadian-kejadian yang memiliki pengaruh signifikan dalam fase pertumbuhannya.

Dari keduanya kemudian para ahli mengelompokkan generasi menjadi generasi pre Boomer, Baby Boomer, Gen X, Gen Y, Gen Z serta generasi termuda saat ini yaitu Generasi Alpha.

Dalam pertarungan politik, perilaku generasi menjadi salah satu point of view yang menarik untuk diperhatikan.

Sebagai contoh bagaimana Joe Biden mampu menumbangkan Donald Trump pada Pemilu Amerika 2020 lalu. Kedua kandidat dan tim suksesnya sangat menyadari pentingnya dukungan pemilih muda dibandingkan pemilih tua.

Penelitian Exit Pool dari Axios dan Survey Monkey-Tableu menyatakan pemilih usia muda memberikan suaranya untuk Joe Biden di 40 dari 50 negara bagian.

Sementara itu Sarah Audelo, Direktur Eksekutif Alliance for Youth Action, menyatakan Joe Biden sebelumnya bukanlah kandidat yang disukai oleh pemilih muda dalam konvensi Partai Demokrat. Namun, menjelang pemilihan umum dia lebih banyak berbicara tentang hutang mahasiswa, perubahan iklim dan vokal dalam reformasi imigrasi.

Menurut Kei Kawashima Ginsberg, Direktur CIRCLE Tish College, pada saat ketidakpastian yang begitu besar, pandemi, kesulitan ekonomi dan rasisme sistemik, kaum muda memberikan suara mendukung pasangan Joe Biden dan Kamala Harris.

Pemilu di Amerika Serikat menjadi bukti nyata pemanfaatan media sosial untuk menguatkan jaringan pendukung dan melakukan mobilisasi pemilih dengan memanfaatkan perilaku pemilih sebagai bahan kampanye di media sosial.

Di Indonesia, data BPS 2020 menyatakan komposisi 270 juta lebih penduduk Indonesia didominasi oleh Gen Z (27,94%). Selanjutnya Gen Y (25,87%), Gen X (21,88%), Gen Baby Boomer (11,56%), Gen Post Z (10,88%) dan Pre Boomer (1,87%).

Berdasarkan data BPS, VOXinstitute melakukan analisis terhadap data komposisi penduduk di Provinsi Riau, dan menghasilkan temuan bahwa estimasi pemilih lintas generasi di Provinsi Riau mempunyai stuktur dominasi pemilih yaitu Generasi Y (36,1%), Generasi Z (26,6%), Generasi X (25,7%) dan terakhir Generasi Pre/Baby Boomer (11,5%).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kaum muda merupakan faktor kunci kemenangan Pemilu 2024, yaitu pemilih milenial (Gen Y) dan pemilih gen Z.

Relasi Perilaku Generasi Milenial dan Gen Z

Generasi Y lahir diantara tahun 1980 hingga 1995, sementara generasi Z lahir diantara tahun 1995-2010. Hal yang signifikan sebagai pembeda Gen Y dan Gen Z ialah bahwa generasi milenial merupakan “generasi digital adaptif”, sementara Gen Z merupakan “generasi digital native”.

Jika generasi milenial menyesuaikan perkembangan teknologi digital, maka Gen Z ialah “pribumi digital pertama” yang sejak mula dilahirkan sudah berinteraksi dengan perkembangan teknologi digital.

Terdapat studi menarik dari Alvara Reseach Centre pada tahun 2022 yang menjelaskan dengan gamblang perilaku Gen Y dan Gen Z.

Studi tersebut mengelompokkan generasi terhadap 5 tipologi politik yaitu :
1. Traditionalist : merupakan kategori yang memiliki pemikiran tradisional, mengutamakan kepentingan negara dan menganggap negaranya lebih baik dibandingkan negara lain.
2. Rationalist : merupakan kategori yang melihat kondisi secara rasional dan logis.
3. Apatheist : merupakan kategori yang cuek terhadap kondisi apapun dan cenderung tidak mau terlibat dengan urusan negara.
4. Sentimentalist : merupakan kategori yang cenderung lebih idealis, serius dan sensitif terhadap kondisi apapun.
5. Universalist : merupakan kategori yang mendukung adanya pemisahan antara agama dan negara, mendukung HAM dan merangkul berbagai kalangan mulai dari suku, agama, ras, transgender dan sebagainya.

Temuan studi tersebut menyimpulkan bahwa generasi Milenial merupakan generasi dengan tipologi politik yang cenderung pada kelompok rasionalis dan berbeda dengan generasi Z yang lebih dekat dengan tipologi sentimentalis yaitu pemilih yang cenderung lebih idealist, serius dan sensitif terhadap kondisi apapun.

Berbeda dengan pemilih generasi Y, yang cendrung rasionalis, generasi Z merupakan generasi yang labil dan rawan dipolitisasi dan dijadikan komoditas politik untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas kontestan Pemilu.

Pemilih gen Z rawan didekati, dipersuasi, dipengaruhi, dimobilisasi, dan sebagainya. Apalagi dengan statusnya yang native digital, mereka adalah “serdadu” yang sangat piawai dalam menyebarkan agitasi politik yang sayangnya jika salah langkah justru menjadi agen penyebaran kampanye hoax.

Jika pemilih milenial merupakan pemilih yang secara psikologis sudah terbiasa dengan pemilu maka generasi Z merupakan generasi yang relative belum  berpengalaman dalam menentukan pilihan. Faktor inilah salah satu hal yang mengakibat Generasi Z merupakan generasi yang gampang dimanipulasi.

Temuan survei VOXinsitute di Provinsi Riau mendapatkan kesimpulan bahwa meskipun Gen Z mendapatkan banyak informasi dari media sosial dan internet, mereka merupakan pemilih yang sangat gampang dipengaruhi oleh pilihan orangtua dan kerabat mereka yang notabene bertindak sebagai generasi Y atau X.

Kecendrungan dependent pilihan tersebut semakin tinggi tarafnya pada pemilih di desa dan pemilih dengan tingkat pendidikan rendah. Itu juga merupakan salah satu faktor bahwa peran generasi Y semakin kuat pada pemilu 2024 mendatang sehingga kami mengibaratkan relasi pilihan gen Y dan gen Z merupakan relasi atasan dan bawahan. Atasan memberikan arahan dan bawahan mengerjakan tugas. 

Generasi muda  baik Gen Y maupun generasi Z merupakan generasi yang unik. Diperlukan strategi yang jitu untuk merebut hati mereka. Setidaknya ada 4 strategi yang perlu dilakukan untuk mendapatkan simpati mereka yaitu :

1. Fokus pada media sosial,
2. Berkolaborasilah dengan Key Influencer. Gen Y dan gen Z, merupakan “generasi referensi SosMed“ artinya influencer menjadi kunci untuk mendekati mereka.
3. Share your values: Generasi muda era digital merupakan generasi yang menyukai nilai. Jika nilai yang dibagikan adalah konten yang baik dan sesuai kepribadiannya, mereka tidak akan segan-segan memasarkan konten tersebut bahkan membayar untuk itu.
4. Entertainment is the key. Generasi muda baik gen Y dan gen Z merupakan generasi yang suka hiburan. Berikanlah hiburan yang menarik bagi mereka.

Pemilu 2024 merupakan fase pertukaran kekuasan generasi dari fase kekuasaan milenial kepada generasi Z di pemilu selanjutnya. Pemilu 2024 adalah fase terakhir dominasi gen Y.  Pada pemilu selanjutnya generasi Y bukan lagi penentu kemenangan, generasi Z lah yang akan memainkan kunci peralihan kekuasaan.

Untuk itu perlu penanaman nilai yang baik agar peralihan kekuasaan generasi diikuti dengan peralihan kualitas untuk generasi selanjutnya. Sebagaimana kutipan kalimat dari seorang tokoh ”Seorang politisi berpikir tentang pemilihan berikutnya. Seorang negarawan, dari generasi berikutnya." ***