- 06/10/2026
Para narasumber pada konferensi internasional UIN Suska.
PEKANBARU (VOXindonews) – Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) sukses menyelenggarakan konferensi pertama, Suska Annual International Conference on Interdisciplinary Islamic Studies (SAICIIS) 2026 di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (30/9/2026).
Mengusung tema “Interdisciplinary Islamic Studies for Addressing Global Challenges in Sustainable Environment, Society, and Economy”, konferensi internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta para pemangku kepentingan dari berbagai institusi. Mereka mendiskusikan kontribusi kajian Islam interdisipliner dalam menjawab tantangan global di bidang keberlanjutan lingkungan, pembangunan sosial, dan transformasi ekonomi.
Konferensi ini menghadirkan peserta, pemakalah, dan pembicara dari Indonesia, Türkiye, Malaysia, dan Italia. Keragaman latar belakang akademik dan geografis tersebut memperkuat posisi SAICIIS sebagai ruang dialog global yang mempertemukan tradisi intelektual Islam dengan berbagai isu kontemporer, mulai dari pendidikan, lingkungan, dan teknologi hingga ekonomi berkelanjutan dan pembangunan sosial.
SAICIIS 2026 menawarkan perspektif akademik yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan isu-isu strategis abad ke-21, seperti pendidikan, keberagaman, pembangunan berkelanjutan, filantropi, keuangan sosial Islam, transformasi digital, serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Melalui pendekatan interdisipliner, konferensi ini mendorong lahirnya gagasan dan solusi yang relevan bagi berbagai persoalan lokal, nasional, maupun global.
Konferensi secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Hj. Leny Nofianti, M.S., S.E., M.Si, Ak., CA, Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam menghadapi perubahan iklim, transformasi digital, ketimpangan ekonomi, serta dinamika sosial yang semakin kompleks.
Rektor juga menekankan bahwa nilai-nilai Islam seperti keadilan (‘adl), kemaslahatan (maṣlaḥah), keseimbangan (tawāzun), kasih sayang (raḥmah), dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi tetap relevan sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadaban.
Sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Mahmut Zengin dari Sakarya University, Türkiye, memaparkan bagaimana pendidikan Islam dapat berperan dalam membangun harmoni sosial dan kehidupan damai di tengah masyarakat yang semakin plural.
Berangkat dari pengalaman Türkiye, ia menyoroti pentingnya pendidikan sebagai sarana memperkuat toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan pembentukan karakter yang mampu merespons perubahan global secara konstruktif.
Pada sesi panel invited speakers, Prof. Dr. Raihani mempresentasikan refleksi lebih dari dua dekade penelitian mengenai pendidikan Islam, multikulturalisme, demokrasi, dan toleransi di Indonesia. Ia menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana membangun kewargaan yang inklusif, memperkuat keadilan sosial, dan menumbuhkan penghormatan terhadap keberagaman dalam masyarakat multikultural.
Sementara itu, Prof. Dr. Eka Srimulyani mengangkat isu relasi kuasa dalam keluarga Muslim, transformasi peran perempuan di ruang publik, serta tantangan menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan partisipasi sosial-ekonomi perempuan di era modern. Paparan ini menunjukkan bagaimana perubahan sosial terus membentuk dinamika keluarga dan hubungan gender dalam masyarakat Muslim kontemporer.
Pada bidang pembangunan sosial dan keberlanjutan, Prof. Amelia Fauzia menyoroti peran filantropi Islam sebagai jembatan antara tradisi intelektual Islam dan praktik pembangunan berkelanjutan. Melalui instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf, nilai-nilai Islam dapat diterjemahkan menjadi solusi konkret bagi berbagai persoalan masyarakat, mulai dari kemiskinan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, hingga pelestarian lingkungan.
Sementara itu, Bayu Arie Fianto, Ph.D. menjelaskan potensi keuangan sosial Islam dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pencapaian SDGs. Ia menekankan pentingnya optimalisasi zakat, wakaf, dan berbagai instrumen keuangan sosial syariah untuk memperluas inklusi keuangan, memberdayakan masyarakat, dan mengurangi kesenjangan sosial.
Sebanyak 44 makalah yang dipresentasikan dalam sesi paralel, baik secara luring maupun daring, menunjukkan berkembangnya kajian Islam yang semakin terhubung dengan isu-isu keberlanjutan, teknologi, pendidikan, sosial, lingkungan, dan pembangunan global. Presentasi para peneliti tidak hanya membahas persoalan keislaman secara normatif, tetapi juga menawarkan pendekatan interdisipliner yang aplikatif dalam menjawab berbagai tantangan kontemporer.
Salah satu tema yang paling menonjol adalah Islam dan keberlanjutan lingkungan. Berbagai penelitian membahas pupuk ramah iklim (climate-smart fertilizer), ekoteologi Islam, konservasi lingkungan, pengelolaan lahan gambut, pembangunan berkelanjutan berbasis Maqāṣid al-Syarī‘ah, hingga koeksistensi manusia dan satwa liar melalui perspektif kearifan lokal Melayu. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam memiliki kontribusi yang signifikan dalam merespons perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Bidang pendidikan menjadi fokus penting lainnya. Beragam penelitian membahas kebijakan pendidikan Islam di Indonesia, Thailand, dan Mesir; integrasi active learning dalam pembelajaran; pendidikan karakter berbasis kearifan lokal; model pendidikan agama berbasis Maqāṣid al-Syarī‘ah; hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara bertanggung jawab dalam pendidikan tinggi. Diskusi ini menunjukkan semakin kuatnya perhatian terhadap transformasi pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat global.
Perkembangan teknologi digital juga muncul sebagai tema dominan. Sejumlah penelitian mengkaji pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung pencapaian SDGs, literasi digital, monetisasi platform digital, konvergensi media, pembelajaran agama berbasis algoritma, hingga pemanfaatan Natural Language Processing untuk penilaian ESG (Environmental, Social, and Governance). Tema-tema tersebut menunjukkan meningkatnya perhatian akademisi terhadap dampak teknologi terhadap pendidikan, komunikasi, tata kelola, dan kehidupan keagamaan.
Berbagai penelitian juga mengeksplorasi dinamika sosial masyarakat Muslim, termasuk isu poligami dalam perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah, perilaku prososial dan religiositas, nilai-nilai kehidupan harmonis dalam tradisi Melayu-Islam, identitas Muslim migran, serta pembentukan identitas profesional konselor. Melalui berbagai pendekatan tersebut, para peneliti berupaya menjelaskan bagaimana nilai-nilai Islam berperan dalam memperkuat kohesi sosial dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Sesi paralel juga menampilkan berbagai kajian mengenai ekonomi Islam dan pembangunan berkelanjutan. Topik yang dibahas meliputi praktik perdagangan berkelanjutan berbasis nilai ekonomi Islam, tren riset global tentang keuangan Islam dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, perilaku generasi muda Muslim terhadap layanan paylater dan pinjaman daring, serta kontribusi keuangan syariah terhadap agenda SDGs. Temuan-temuan tersebut menunjukkan semakin pentingnya ekonomi Islam dalam diskursus pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Transformasi media dan komunikasi turut menjadi perhatian para peneliti. Berbagai makalah membahas radio Islam di era digital, jurnalisme dalam ekosistem media berbasis platform, komunikasi lingkungan, visualisasi konsep khilafah dalam media sosial, budaya komunikasi masyarakat Melayu, hingga akuntabilitas pejabat publik di ruang digital. Tema ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi komunikasi memengaruhi cara masyarakat membangun identitas, menyebarkan informasi, dan berinteraksi dalam ruang publik.
Selain itu, sejumlah penelitian mengangkat kekayaan budaya lokal sebagai sumber pengetahuan dan keberlanjutan sosial. Kajian tentang aksara Arab Melayu, warisan budaya Melayu, nilai ekologis masyarakat Melayu, serta integrasi kearifan lokal dalam pengembangan kurikulum pendidikan menunjukkan pentingnya pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan sekaligus penguatan identitas masyarakat.
Beberapa penelitian juga mengulas isu kebijakan publik dan tata kelola, termasuk implementasi program jaminan kesehatan, kebijakan pendidikan Islam, akuntabilitas publik pascabencana, dan pengelolaan lembaga sosial. Tema-tema tersebut mencerminkan perhatian akademisi terhadap upaya mewujudkan tata kelola yang lebih efektif, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Hasil presentasi dan diskusi menunjukkan sejumlah tren yang berkembang dalam kajian Islam kontemporer. Pertama, meningkatnya perhatian terhadap Islam dan keberlanjutan (Islam and Sustainability), khususnya terkait perubahan iklim, ekoteologi Islam, konservasi lingkungan, ekonomi hijau, dan pembangunan berkelanjutan berbasis Maqāṣid al-Syarī‘ah.
Kedua, berkembangnya kajian mengenai transformasi digital dan kecerdasan buatan, termasuk AI dalam pendidikan tinggi, literasi digital, konvergensi media, pembelajaran agama berbasis algoritma, dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pencapaian SDGs. Ketiga, semakin kuatnya perhatian terhadap Islamic Social Finance, terutama zakat, wakaf, filantropi Islam, dan berbagai instrumen keuangan sosial syariah sebagai solusi pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Keempat, munculnya kecenderungan untuk mengintegrasikan kearifan lokal, warisan budaya, dan identitas masyarakat ke dalam penelitian pendidikan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat sebagai upaya menghubungkan pengetahuan lokal dengan tantangan global. Kelima, berkembangnya penelitian yang mengaitkan pendidikan Islam dengan isu-isu global, termasuk multikulturalisme, kewargaan demokratis, pendidikan karakter, keberagaman, dan transformasi sosial.
Melalui berbagai gagasan, penelitian, dan diskusi yang berkembang selama konferensi, SAICIIS 2026 menegaskan bahwa kajian Islam interdisipliner semakin bergerak ke arah pengembangan solusi bagi isu-isu keberlanjutan, transformasi digital, harmoni sosial, dan pembangunan inklusif. Konferensi ini sekaligus memperlihatkan bahwa integrasi nilai-nilai Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi kontribusi strategis dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat kontemporer di tingkat lokal, nasional, maupun global. (SAD)
SAICIIS 2026 UIN Suska SDGs Kajian Islam Interdisipliner VOXindonews Lazada Shopee