- 04/02/2026
Dini Nosa Jaspina
PENDIDIKAN sering kali terjebak dalam sekat-sekat dinding kelas yang kaku. Padahal, esensi dari belajar adalah memahami bagaimana kehidupan bekerja.
Di SMP Negeri 1 Lubuk Dalam, Siak, sebuah inisiatif kokurikuler bagi siswa kelas 7 bertajuk “Belajar Budidaya Ayam untuk Mendukung Ketahanan Pangan” hadir sebagai antitesis dari model pendidikan yang sekadar menghafal teori.
Menariknya, program ini terintegrasi dengan kebijakan nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), di mana sisa makanan siswa diolah kembali menjadi pakan ternak.
Langkah kecil dari Lubuk Dalam ini sebenarnya membawa pesan pedagogis yang sangat dalam : bagaimana sekolah bertransformasi dari konsumen menjadi produsen solusi bagi problematika kontemporer.
Menghidupkan Teori di Dalam Kandang
Dalam kacamata teori pendidikan, praktik budidaya ayam ini adalah manifestasi dari Pedagogi Kritis dan Konstruktivisme. Jean Piaget dan Lev Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman nyata.
Saat siswa kelas 7 turun tangan mengelola sisa makanan MBG menjadi pakan ayam, mereka tidak sedang belajar biologi atau ekonomi secara terpisah. Mereka sedang melakukan Experiential Learning (pembelajaran berbasis pengalaman).
Siswa belajar tentang siklus energi dan keberlanjutan. Di sini, sisa makanan tidak lagi dipandang sebagai limbah atau masalah lingkungan (eksternalitas negatif), melainkan sebagai aset untuk mendukung ketahanan pangan lokal.
Proses ini mengubah pola pikir siswa dari sekadar pengguna menjadi pengelola sumber daya.
Tantangan Kurikulum dan Peran Pendidik
Implementasi kurikulum di lapangan sering kali terbentur pada masalah relevansi. Banyak
materi pelajaran terasa jauh dari kebutuhan hidup siswa sehari-hari.
Proyek budidaya ayam di SMPN 1 Lubuk Dalam menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan solusi pedagogis terhadap isu ketahanan pangan yang menjadi agenda global dan nasional.
Guru dalam konteks ini berperan sebagai "Intelektual Transformatif" — meminjam istilah Henry Giroux. Pendidik tidak lagi hanya berdiri di
depan kelas menjelaskan definisi ketahanan pangan, tetapi mendampingi siswa mengalami langsung proses produksinya.
Ini adalah peran pendidik dalam perubahan sosial: mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan ekologis dan keterampilan praktis.
Efisiensi MBG dan Etika Keberlanjutan
Integrasi sisa makanan MBG sebagai pakan ternak menunjukkan adanya kecerdasan sistemik. Secara etis, ini mengajarkan siswa tentang nilai "Zero Waste" (nol sampah). Dalam perspektif pendidikan karakter, hal ini melatih rasa syukur dan tanggung jawab.
Jika dalam program MBG mereka belajar tentang nutrisi bagi tubuh sendiri, melalui budidaya ayam mereka belajar memberi nutrisi bagi makhluk hidup lain dan lingkungan.
Program ini membuktikan bahwa hambatan biaya pakan dalam budidaya dapat ditekan melalui kreativitas pemanfaatan limbah sekolah. Ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan di lapangan dapat diatasi dengan inovasi pedagogis yang tepat guna.
Membangun Kemandirian dari Bangku Sekolah
Relevansi teori pendidikan dalam praktik pembelajaran diuji dari sejauh mana sekolah
mampu mencetak individu yang mandiri. Melalui program ini, SMPN 1 Lubuk Dalam telah mempraktikkan pendidikan yang membumi.
Siswa dilatih untuk melihat peluang di tengah tantangan, sebuah skill yang jauh lebih berharga
daripada sekadar nilai di atas kertas raport.
Namun, keberlanjutan program seperti ini memerlukan konsistensi dan dukungan dari
seluruh ekosistem sekolah. Transformasi pendidikan tidak bisa terjadi secara instan; ia memerlukan kesabaran seperti saat siswa menunggu telur ayam menetas.
Penutup: Sekolah Sebagai Oase Perubahan
Sebagai penutup, apa yang terjadi di Lubuk Dalam adalah cerminan bahwa masa depan
pendidikan kita terletak pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Budidaya ayam ini bukan sekadar urusan ternak, melainkan urusan menumbuhkan karakter tangguh dan nalar kritis.
Sudah saatnya kita merefleksikan kembali: apakah sekolah kita sudah cukup memberikan
ruang bagi siswa untuk bersentuhan dengan realitas?
Mari kita jadikan praktik di SMPN 1 Lubuk Dalam sebagai inspirasi bahwa dari sisa makanan di piring siswa, kita bisa mulai membangun kedaulatan pangan bangsa.
Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mampu memberi makan, baik bagi akal, jiwa, maupun kehidupan. ***
Inovasi pedagogi SMPN 1 Lubuk Dalam Siak Melawan Limbah Sisa MBG VOXindonews Lazada Shopee