VOXOpini

Renungan : Jangan Lupa Ketika Kita Sedang di Atas

Oleh : Suardi, S. Sos, M.I.Kom, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Suska Pekanbaru.
Jum'at, 14 Agustus 2026 06:32 WIB
Suardi, S. Sos, M.I.Kom

PERTEMUAN itupun usai. Orang-orang tampak mulai beranjak pergi. Kursi-kursi bergeser,
terdengar percakapan-percakapan kecil di pintu keluar. Beberapa orang terlihat sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing.

Di tengah suasana itu, seorang lelaki berdiri agak lama di tempat penitipan alas kaki. Usianya tak muda lagi. Ia menunduk, mengamati satu per satu sepatu dan alas kaki. Sesekali tangannya menggeser sandal dan sepatu di sudut ruangan yang mulai berantakan dan tak lagi rapi. Sepatunya hilang.

Lelaki itu tadinya bukan orang biasa. Dahulu ia pernah menduduki jabatan penting pada masanya. Barangkali tidak pernah terbayangkan ia harus mencari sendiri sepatunya. Padahal duluya selalu ada orang di sekelilingnya. Ada yang memastikan jalan terbuka, kendaraan tersedia, agenda tersusun, dan segala kebutuhan kecil terpenuhi bahkan sebelum diminta. 

Namun, sore itu berbeda. Ia menoleh ke kanan
dan ke kiri tapi tak ada yang menghampiriinya. Orang-orang terus berlalu seperti  tak menyadarinya . Mungkin mereka benar-benar tidak melihat. Mungkin pula melihat, tetapi merasa tidak perlu membantunya.

Bahkan disitu ada seseorang yang dahulu pernah menjadi ajudannya. Pada masa lalu hampir selalu berada beberapa langkah darinya. Sedikit perubahan raut wajah mungkin sudah cukup menjadi isyarat baginya. Kini, mantan ajudan itu tampak biasa saja. Tidak mendekat atau bertanya. Seolah-olah lelaki yang sedang kebingungan itu hanyalah satu dari sekian banyak orang yang hendak pulang saja.

Lalu seorang petugas kebersihan menghampiri. Tanpa banyak bicara, ia ikut mencari. Beberapa
pasang alas kaki dipindahkan diamati. Tak lama kemudian, sepatu itu ditemukan kembali. Bisa jadi terselip atau dipindahkan seseorang tadi. Lelaki tersebutpun akhirnya mengenakan sepatunya dan pergi.

Kisahnya selesai. Sepatunya ditemukan kembali. Namun, seakan ada yang masih tertinggal; sebuah peristiwa kecil yang diam-diam berbicara tentang perubahan ketika seseorang tak lagi berkuasa.

Ketika sedang di atas, seseorang hampir tidak pernah merasa sendirian. Teleponnya cepat
diangkat. Kedatangannya ditunggu. Kursi terbaik disediakan. Perkataannya dicatat, pendapatnya dibenarkan. Bahkan leluconnya sering disambut tawa lebih meriah daripada yang seharusnya.

Pokoknya, orang-orang datang membawa keramahan. Ada yang menawarkan bantuan, ada yang menunjukkan kekaguman, ada pula yang berusaha sekadar terlihat dekat penuh keakraban. Di tengah keramaian semacam itu, tidak mudah membedakan siapa yang sungguh menghormati diri kita dan siapa yang sebenarnya hanya menghormati jabatan belaka.

Kekuasaan memang memiliki bahasa yang unik. Ia dapat berbicara bahkan ketika pemiliknya
diam. Pangkat, kendaraan dinas, ajudan, ruang kerja, dan orang-orang yang menunggu di depan pintu adalah tanda-tanda yang mengirimkan pesan tentang kewenangan. Dalam komunikasi, simbol-simbol itu membentuk cara orang memandang dan memperlakukan seseorang.

Sosiolog Erving Goffman pernah menggambarkan kehidupan sosial seperti sebuah panggung. Di atas panggung, orang menampilkan wajah terbaik, memainkan peran, dan berusaha menciptakan kesan tertentu di hadapan orang lain. Di sekitar kekuasaan, panggung itu biasanya lebih ramai. Banyak orang ingin terlihat setia, peduli, dan dekat dengan pemeran utamanya.

Tetapi tidak ada pertunjukan yang berlangsung selamanya. Ketika masa jabatan berakhir, lampu panggung perlahan meredup. Pemeran utama berganti. Orang-orang yang dahulu berdiri di sekitar tokoh lama mulai bergerak mendekati tokoh baru. Sapaan menjadi lebih singkat. Telepon tidak selalu dijawab. Undangan semakin jarang. Hal-hal kecil yang dahulu diselesaikan banyak tangan, kini harus dikerjakan sendirian.

Barangkali inilah salah satu kesunyian yang paling berat setelah kekuasaan. Bukan
kehilangan fasilitas, melainkan menyadari bahwa sebagian kedekatan ternyata ikut berakhir bersama jabatan.

Sepatu yang hilang itu pada akhirnya bukan lagi potongan kisah biasa. Ia seperti cermin
kecil yang memperlihatkan perubahan hubungan manusia. Ketika dahulu berkuasa, mungkin puluhan orang siap membungkuk untuk memastikan sepatunya tersedia. Ketika jabatan telah tiada, seseorang yang begitu penting tadinya kini kebingungan tanpa adalagi sapaan sok akrab dan ramah lagi padanya.

Memang tak ada kata-kata kasar dalam peristiwa itu. Tak ada juga perlu dipermasalahkan. Namun, sikap tak peduli adalah pesan nonverbal yang seakan mengatakan:  masa Anda telah berlalu. Seakan menyayat hati dengan sembilu.

Ada ironi yang menghangatkan sekaligus menyesakkan. Adakalanya yang membantu bukanlah mereka yang dahulu berada di lingkaran kekuasaan, melainkan seorang petugas kebersihan. Atau orang-orang lain yang selama ini disepelekan.

Mungkin nama petugas itu tak dikenal. Tidak ada yang mencatat tindakannya. Tidak ada kamera yang merekamnya untu diunggah ke media sosial sebagaimana lazimnya. Ia juga tidak memiliki kepentingan untuk memperoleh promosi atau kemudahan dari seorang mantan pejabat pula. Ia membantu karena melihat seseorang sedang membutuhkan pertolongannya.

Secara struktur pekerjaan, petugas itu mungkin sering ditempatkan di bawah. Ia membersihkan ruangan setelah selesai menggunakannya. Ia bekerja ketika orang lain telah pulang semua. Kehadirannya sering luput dari perhatian kita, kecuali ketika lantai kotor atau sampah masih berserakan dimana-mana.

Namun, pada sore itu, secara kemanusiaan justru dialah yang berada di atas segalanya. Lebih tinggi dalam kepekaan, lebih mulia dalam kepedulian, dan lebih cepat membaca pesan dari wajah orang yang sedang kesulitan.

Komunikasi tidak selalu membutuhkan kalimat panjang. Kadang-kadang, membungkuk untuk ikut mencari sepasang sepatu adalah bentuk komunikasi jujur berkemanusiaan. Tindakan
sederhana itu seakan berkata: “Saya melihat anda sedang kesulitan. Saya bersedia membantu mencarikan”.

Bukankah pada dasarnya setiap manusia ingin tetap dilihat, bahkan ketika seluruh atribut
kebesarannya tak lagi melekat?

Tentu saja, tidak semua mantan pejabat mengalami kesunyian yang sama. Ada pemimpin yang tetap dikunjungi meskipun tak lagi menempati rumah dinasnya. Ada yang tetap
dimintai nasihat meskipun tidak lagi dapat membagikan jabatan dan wewenangnya. Ada pula yang namanya tetap disebut dan dikenang bertahun-tahun karena jasa dan kebaikan yang telah ditinggalkannya.

Mereka dirindukan bukan karena masih memiliki jabatan dan kuasa. Melainkan karena dahulu, mereka tidak kehilangan cara memperlakukan manusia. Tanpa memandang suku dan kasta.

Mereka mengenal nama orang-orang kecil di sekitarnya. Mereka mengucapkan terima kasih
kepada petugas yang membuka pintu padanya. Mereka mendengar sebelum mengambil
keputusan, menegur tanpa merendahkan. Tanpa membuat orang merasa kecil hanya untuk menunjukkannya  besar.

Pemimpin seperti itu memahami bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan cara memperlakukan manusia akan tinggal dalam ingatan. Surat keputusan dapat memberi
seseorang kekuasaan, tetapi tidak dapat memaksa orang lain untuk merindukan. Rasa hormat mungkin diberikan kepada jabatan, tetapi kerinduan hanya diberikan pada kebaikan.

Karena itulah, ukuran seorang pemimpin tidak dilihat dari orang yang berdiri ketika ia memasuki ruangan. Justru tampak setelah ia tidak lagi memegang jabatan. Masih  adakah orang yang tulus menyediakan kursi untuknya? menanyakan kabarnya? atau sekadar berhenti ketika melihatnya mencari sepatunya?

Karena tak ada seorang pun yang selamanya berada di atas. Suatu hari, tanda tangan kita
hanyalah sekedar coretan diatas kertas. Ruangan akan ditempati orang lain yang menggantikan. Kendaraan dinaspun dikembalikan. Orang-orang yang dahulu menunggu arahan seakan tak lagi memperhatikan.

Saat itulah kita akan mengetahui mana hubungan yang tumbuh dari hati dan mana yang hanya menempel pada kursi.

Maka, selagi sedang di atas, jangan terlalu cepat mengira keramaian sebagai persahabatan. Menganggap pujian sebagai ketulusan. Dan jangan merasa diri begitu penting hanya karena orang-orang selalu datang memenuhi undangan.

Gunakanlah masa di atas untuk memanusiakan. Sapalah petugas kebersihan. Dengarkan bawahan. Hormati orang yang tak mempunyai sesuatu untuk ditawarkan. Boleh jadi merekalah
yang kelak tetap melihat kita sebagai manusia ketika orang-orang lain hanya mengingat kita sebagai mantan atasan.

Pertemuan itu telah lama selesai. Orang-orang mungkin sudah melupakan peristiwa kecil
tersebut. Sang mantan pejabat pun mungkin telah melupakan sepatu yang sempat hilang.

Namun, kisah sepasang sepatu  hilang itu meninggalkan pertanyaan: Ketika kita tidak lagi berada di atas, siapakah yang masih
menghampiri dan membantu kita? Jawabannya mungkin tidak ditentukan saat kita turun. Ia sedang kita tulis melalui cara kita memperlakukan manusia ketika kita sedang di atas ***

renungan jangan lupa ketika sedang di atas VOXindonews Lazada Shopee